Gejolak
Perang Dingin
Oleh
: Alfi Nur Rohmah
1947-1991
merupakan waktu yang cukup panjang antara Amerika (blok barat dan para sekutunya) dan Uni Soviet (blok timur dan para sekutunya). Dua negara besar yang sebelumnya menjadi
kawan dan pemenang di pihak sekutu dalam Perang Dunia II. Berbalik menjadi
saling menyerang. “Perang Dingin” itu adalah istilah yang dikatakan oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika
Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa
tersebut.
Akhir Perang Dunia II bukan menjadi titik terakhir konflik di
dunia. Setelah AS dan Uni Soviet berada dalam satu sekutu dan memenangkan
perang terhadap Jerman, Italia, dan Jepang. Terjadi konflik baru, ditandai
dengan adanya perbedaan ideologi yang kontras yaitu kapitalis –liberalis dan
komunis. Kedua negara ini berseteru setelah perang melawan Hitler, Musoli, dan
kawan-kawan berakhir. Konferensi antara Stalin (USSR), Roosevelt (USA) dan
Churchill (Inggris) dikenal dengan The Big Tree atau Tiga Besar diselenggarakan
pada November 1943, merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kejadian-
kejadian beriktnya.
Terjadi perbedaan pandangan yang cukup lama mengenai Eropa Timur.
Presiden AS menginginkan pemilu yang bebas di Eropa timur, namun Stalin menolak
dengan usulan tersebut dengan alasan, dengan melaksanakan pemilu bebas sama halnya
membentuk pemerintahan anti Soviet. Perbedaan pendapat dari kedua negara ini
disebut sebagai pemicu awal terjadinya Perang Dingin. Ketegangan mulai terjadi saat
Stalin berencana menginginkan keamanan militer yang total dari Jerman dan
sekutu-sekutu potensialnya di Eropa Timur untuk selamanya. Jawaban AS terhadap konsep keamanan Stalin, yang tampaknya berlebihan,
mulai terlihat. Pada Mei 1945, sebelum diselenggarakan konferensi Postdam,
Truman mengusulkan dihentikannya semua bantuan ke Uni Soviet. Ketegangan antara AS dan Uni Soviet semakin memanas,
dengan munculnya sikap emosional dan mobilisasi di berbagai bidang dengan cepat
yang dilakukan AS. Selain itu agen-agen rahasia Stalin juga tidak mau
ketinggalan, semua agen stalin diseluruh dunia memanaskan situasi dengan
mengatakan pentingnya “perjuangan ideologi melwan imperialisme kapitalis.”
Uni Soviet juga melakukan tekanan dengan mendesak Iran dan Turki
yang terlalu pro dengan Amerika, mengungkapkan rencana Amerika untuk mengambil
alih Eropa dan dengan agresif menentang pemerintahan mereka melalui cara-cara
kekerasan dan pemogokan. Amerika melalui Doktrin Presiden Truman melaksanakan
politik containing atau pengepungan terhadap komunisme di kawasan yang sudah
dikuasai oleh Tentara Merah. AS juga menawarkan program bantuan kepada
negara-negara Eropa melalui Marshall Plan, namun ditolak oleh Stalin. Dengan
usaha Stalin dalam membersihkan unsur-unsur nonkomunis dalam pemerintahan Eropa
membuat pendudukan menjadi khawatir akan berkembangnya komunis di negaranya.
4
April 1949, Amerika berhasil membujuk negara-negara Eropa Barat untuk
menandatangani pendirian suatu pakta pertahanan yang dikenal dengan NATO. Uni
soviet tidak mau kalah, ia juga mengikat negara-negara satelitnya di Eropa
Timur yang berhaluan komunis dalam pakta Warsawa. Dengan adanya pakta
pertahanan secara tidak langsu mereka berlomba mengembangkan dan mempertahankan
pengaruhnya masing-masing.
Dalam tahun-tahun terakdir Perang Dingin sekitar 1985 Uni Soviet
mengalami keterpurukan perekonomian disebabkan karena turunnya harga minyak
dunia. Mikhail Gorbachev yang menjabat sebagai sekretaris jenderal Uni Soviet
mengambil keputusan untuk memperbaiki keterpurukan ekonomi Soviet, bukan
melanjutkan perlombaan senjata dengan blok barat. Salah satu strategi Gorbachev
ialah melakukan kebebasan pers dan transparansi bermaksud mengurangi korupsi ,
selain itu melakukan perbaikan hubungan dengan Amerika dengan melakukan
beberapa perundingan yang puncaknya pada 1989 yang menyatakan Perang Dingin
telah berakhir.
Semakin lama sistem Soviet semakin memburuk bahkan Bush, yang
berjuang untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan Soviet, mengutuk
pembunuhan pada bulan Januari 1991 di Latvia dan Lituania serta mengancam
pembekuan perekonomian dengan Soviet.
Secara fatal dilemahkan oleh kudeta yang gagal pada tahun 1991. pada
tanggal 25 Desember 1991 Unisoviet secara resmi dibubarkan dan menjandi
beberapa negara bagian.
Pada era perang dingin Indonesia
mempunyai kebijakan Politik Luar negeri " Bebas Aktif " dimana
Indonesia bersikap tidak memihak blok manapun dan aktif untuk mewujudkan
perdamaian dunia bersama negara - negara lain seperti Mesir , Yugoslavia , Kuba
dll membentuk Gerakan Non Blok. Pada realitanya Indonesia yang pada tahun 1965
pernah mengalami pemberontakan komunis lebih condong sedikit ke blok Barat dan
Indonesia sangat berperan dalam " balance of power “. Sikap Indonesia yang
non blok ditegaskan tidak mau adanya pangkalan militer Amerika Serikat &
NATO di wilayah Indonesia dan tidak mendukung keterlibatan Amerika Serikat di
perang Vietnam.
Dari peristiwa Perang dingin yang
berlangsung cukup lama, banyak dampak yang ditinggalkan dari peristiwa
tersebut. Dampak positif Perang dingin ialah dalam bidang ekonomi berkembangnya
perekonomian dunia dengan munculnya negara super power maka perekonomian
dipegang oleh pemilik modal, semua orang berusaha untuk memajuakan usaha dengan
muncul istilah globalisasi ekonomi.
Dalam bidang militer masing-masing
negara mulai meningkatkan persenjataannya. Dengan begitu persaingan senjata
semakin maju dan berkembang pesat. Itu semua memacu tiap negara untuk terus
mengembangkan pertahanan negaranya masing-masing.
Dalam bidang sosial budaya, secara langsung undang-undang tentang
HAM mulai diakui. Dalam bidang teknologipun Perang Dingin memberikan dampak
positif, pemerintah mau mengeluarkan dana besar untuk kemajuan teknologi di
negaranya, saat bersengketa dua negara tersebut berlomba-lomba menunjukkan pada
dunia bahwa negaranyalah yang paling unggul dengan meluncurkan roket-roket ke
luar angkasa yang manfaatnya juga bisa kita rasakan sekarang, bisa mengetahui
apasaja yang ada diluar angkasa, berbagai disiplin ilmu pun juga banyak muncul.
Tak hanya kebaikan yang ditimbulkan dalam Perang Dingin ini.
Dampak negatifpun juga mengiringinya seperti dalam bidang militer kedua negara
ini berlomba-lomba membuat senjata nuklir yang ditakutkan oleh banyak pihak
apabila akhir Perang Dingin ialah dengan jalan perang nuklir. Ada rumor yang
mengatakan bahwa Uni Soviet telah meletakkan nuklir-nuklirnya di Kuba yang
dihadapkan ke Amerika, isu tersebut menjadika Amerika menandatangani
terbentuknya NATO, yang isinya apabila salah satu negarannya diserang maka
dianggap serangan bagi NATO. Dengan mengetahui perjanjian itu, Uni Soviet
menarik kembali rudal-rudal nuklirnya dari Kuba.
Selain itu, dampak di bidang
Politik. Dampak dalam bidang
politik dapat kita lihat dari dibangunnya tembok berlin di Jerman sebagai batas
antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Negara ini mengalami perpecahan karena
adanya dua paham yang berbeda yang
berlaku di negara ini, yaitu liberal yang dianut Jerman Barat dan Komunis yang
dianut Jerman Timur. Namun pada saat itu Jerman Barat Lebih maju, maka banya
penduduk Jerman Timur yang Hijrah ke Jerman Barat. Saat itu ada Perang Dingin,
merasa tersinggung karena banyak yang hijrah ke Jerman Barat Uni Soviet
mendanai dan mendukung pembuatan tembok besar yang berada di tengan kota Berlin
yang membagi dua kota tersebur serta mengirimkan tentara untuk menjaga tembok
itu, apabila ada yang berani melewati maka orang tersebut akan dibunuh. Tembok
itu dikenal menjadi simbol perang dingin.

0 komentar:
Posting Komentar