Kamis, 05 Februari 2015

Gejolak Perang Dingin



Gejolak Perang Dingin
Oleh : Alfi Nur Rohmah


1947-1991 merupakan waktu yang cukup panjang antara Amerika (blok barat dan para sekutunya)  dan Uni Soviet (blok timur dan para sekutunya). Dua negara besar yang sebelumnya menjadi kawan dan pemenang di pihak sekutu dalam Perang Dunia II. Berbalik menjadi saling menyerang. “Perang Dingin” itu adalah istilah yang dikatakan oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut.

Akhir Perang Dunia II bukan menjadi titik terakhir konflik di dunia. Setelah AS dan Uni Soviet berada dalam satu sekutu dan memenangkan perang terhadap Jerman, Italia, dan Jepang. Terjadi konflik baru, ditandai dengan adanya perbedaan ideologi yang kontras yaitu kapitalis –liberalis dan komunis. Kedua negara ini berseteru setelah perang melawan Hitler, Musoli, dan kawan-kawan berakhir. Konferensi antara Stalin (USSR), Roosevelt (USA) dan Churchill (Inggris) dikenal dengan The Big Tree atau Tiga Besar diselenggarakan pada November 1943, merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kejadian- kejadian beriktnya.

Terjadi perbedaan pandangan yang cukup lama mengenai Eropa Timur. Presiden AS menginginkan pemilu yang bebas di Eropa timur, namun Stalin menolak dengan usulan tersebut dengan alasan, dengan melaksanakan pemilu bebas sama halnya membentuk pemerintahan anti Soviet. Perbedaan pendapat dari kedua negara ini disebut sebagai pemicu awal terjadinya Perang Dingin. Ketegangan mulai terjadi saat Stalin berencana menginginkan keamanan militer yang total dari Jerman dan sekutu-sekutu potensialnya di Eropa Timur untuk selamanya. Jawaban AS terhadap konsep keamanan Stalin, yang tampaknya berlebihan, mulai terlihat. Pada Mei 1945, sebelum diselenggarakan konferensi Postdam, Truman mengusulkan dihentikannya semua bantuan ke Uni Soviet. Ketegangan antara AS dan Uni Soviet semakin memanas, dengan munculnya sikap emosional dan mobilisasi di berbagai bidang dengan cepat yang dilakukan AS. Selain itu agen-agen rahasia Stalin juga tidak mau ketinggalan, semua agen stalin diseluruh dunia memanaskan situasi dengan mengatakan pentingnya “perjuangan ideologi melwan imperialisme kapitalis.”

Uni Soviet juga melakukan tekanan dengan mendesak Iran dan Turki yang terlalu pro dengan Amerika, mengungkapkan rencana Amerika untuk mengambil alih Eropa dan dengan agresif menentang pemerintahan mereka melalui cara-cara kekerasan dan pemogokan. Amerika melalui Doktrin Presiden Truman melaksanakan politik containing atau pengepungan terhadap komunisme di kawasan yang sudah dikuasai oleh Tentara Merah. AS juga menawarkan program bantuan kepada negara-negara Eropa melalui Marshall Plan, namun ditolak oleh Stalin. Dengan usaha Stalin dalam membersihkan unsur-unsur nonkomunis dalam pemerintahan Eropa membuat pendudukan menjadi khawatir akan berkembangnya komunis di negaranya.

4 April 1949, Amerika berhasil membujuk negara-negara Eropa Barat untuk menandatangani pendirian suatu pakta pertahanan yang dikenal dengan NATO. Uni soviet tidak mau kalah, ia juga mengikat negara-negara satelitnya di Eropa Timur yang berhaluan komunis dalam pakta Warsawa. Dengan adanya pakta pertahanan secara tidak langsu mereka berlomba mengembangkan dan mempertahankan pengaruhnya masing-masing.

Dalam tahun-tahun terakdir Perang Dingin sekitar 1985 Uni Soviet mengalami keterpurukan perekonomian disebabkan karena turunnya harga minyak dunia. Mikhail Gorbachev yang menjabat sebagai sekretaris jenderal Uni Soviet mengambil keputusan untuk memperbaiki keterpurukan ekonomi Soviet, bukan melanjutkan perlombaan senjata dengan blok barat. Salah satu strategi Gorbachev ialah melakukan kebebasan pers dan transparansi bermaksud mengurangi korupsi , selain itu melakukan perbaikan hubungan dengan Amerika dengan melakukan beberapa perundingan yang puncaknya pada 1989 yang menyatakan Perang Dingin telah berakhir.

Semakin lama sistem Soviet semakin memburuk bahkan Bush, yang berjuang untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan Soviet, mengutuk pembunuhan pada bulan Januari 1991 di Latvia dan Lituania serta mengancam pembekuan perekonomian dengan Soviet.  Secara fatal dilemahkan oleh kudeta yang gagal pada tahun 1991. pada tanggal 25 Desember 1991 Unisoviet secara resmi dibubarkan dan menjandi beberapa negara bagian.

Pada era perang dingin Indonesia mempunyai kebijakan Politik Luar negeri " Bebas Aktif " dimana Indonesia bersikap tidak memihak blok manapun dan aktif untuk mewujudkan perdamaian dunia bersama negara - negara lain seperti Mesir , Yugoslavia , Kuba dll membentuk Gerakan Non Blok. Pada realitanya Indonesia yang pada tahun 1965 pernah mengalami pemberontakan komunis lebih condong sedikit ke blok Barat dan Indonesia sangat berperan dalam " balance of power “. Sikap Indonesia yang non blok ditegaskan tidak mau adanya pangkalan militer Amerika Serikat & NATO di wilayah Indonesia dan tidak mendukung keterlibatan Amerika Serikat di perang Vietnam.

Dari peristiwa Perang dingin yang berlangsung cukup lama, banyak dampak yang ditinggalkan dari peristiwa tersebut. Dampak positif Perang dingin ialah dalam bidang ekonomi berkembangnya perekonomian dunia dengan munculnya negara super power maka perekonomian dipegang oleh pemilik modal, semua orang berusaha untuk memajuakan usaha dengan muncul istilah globalisasi ekonomi.  Dalam bidang militer masing-masing negara mulai meningkatkan persenjataannya. Dengan begitu persaingan senjata semakin maju dan berkembang pesat. Itu semua memacu tiap negara untuk terus mengembangkan pertahanan negaranya masing-masing.

Dalam bidang sosial budaya, secara langsung undang-undang tentang HAM mulai diakui. Dalam bidang teknologipun Perang Dingin memberikan dampak positif, pemerintah mau mengeluarkan dana besar untuk kemajuan teknologi di negaranya, saat bersengketa dua negara tersebut berlomba-lomba menunjukkan pada dunia bahwa negaranyalah yang paling unggul dengan meluncurkan roket-roket ke luar angkasa yang manfaatnya juga bisa kita rasakan sekarang, bisa mengetahui apasaja yang ada diluar angkasa, berbagai disiplin ilmu pun juga banyak muncul.

Tak hanya kebaikan yang ditimbulkan dalam Perang Dingin ini. Dampak negatifpun juga mengiringinya seperti dalam bidang militer kedua negara ini berlomba-lomba membuat senjata nuklir yang ditakutkan oleh banyak pihak apabila akhir Perang Dingin ialah dengan jalan perang nuklir. Ada rumor yang mengatakan bahwa Uni Soviet telah meletakkan nuklir-nuklirnya di Kuba yang dihadapkan ke Amerika, isu tersebut menjadika Amerika menandatangani terbentuknya NATO, yang isinya apabila salah satu negarannya diserang maka dianggap serangan bagi NATO. Dengan mengetahui perjanjian itu, Uni Soviet menarik kembali rudal-rudal nuklirnya dari Kuba.

Selain itu, dampak di bidang Politik. Dampak dalam bidang politik dapat kita lihat dari dibangunnya tembok berlin di Jerman sebagai batas antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Negara ini mengalami perpecahan karena adanya dua  paham yang berbeda yang berlaku di negara ini, yaitu liberal yang dianut Jerman Barat dan Komunis yang dianut Jerman Timur. Namun pada saat itu Jerman Barat Lebih maju, maka banya penduduk Jerman Timur yang Hijrah ke Jerman Barat. Saat itu ada Perang Dingin, merasa tersinggung karena banyak yang hijrah ke Jerman Barat Uni Soviet mendanai dan mendukung pembuatan tembok besar yang berada di tengan kota Berlin yang membagi dua kota tersebur serta mengirimkan tentara untuk menjaga tembok itu, apabila ada yang berani melewati maka orang tersebut akan dibunuh. Tembok itu dikenal menjadi simbol perang dingin.





0 komentar: